Sabtu, 27 April 2013

INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM


Pada kali ini saya akan memposting sekelumit tentang tempat saya menempuh S1  yakni di IAID (Institut Agama Islam Darussalam).

Institut Agama Islam Darussalam (IAID) adalah Perguruan Tinggi Agama Islam yang menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan kepesantrenan, yaitu Pondok Pesantren Darussalam. Pendidikan Tinggi Islam yang lahir pada tanggal 1 Juni 1970 ini sejak lama dipercaya pemerintah dan masyarakat untuk mendidik calon-calon sarjana-ulama-cendekia, yang memiliki visi ke-Islam-an, keilmuan, kebangsaan dan kemasyarakatan.

Kepercyaan itu dibuktikan dengan jumlah ribuan alumni yang tersebar hampir di seluruh pelosok nusantara dalam berbagai peran dan kedudukan.
Pada awal berdirinya, IAID hanya memiliki satu fakultas, yaitu Fakultas Syari’ah. Kemudian melalui usaha keras, saat ini telah ada tiga fakultas dan satu program, yaitu Fakultas Syari’ah (Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah), Fakultas Tarbiyah (Program Studi Pendidikan Agama Islam dan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah dan Pendidikan Guru RA),  dan Program Pascasarjana/S2 (Program Studi Pendidikan Islam).

VISI
Menghasilkan akademisi muslim yang memiliki ketajaman intelektual, ketangguhan iman, kepekaan nurani, dan kekuatan moralProgram Pascasarjana
MISI
  1. Melaksanakan pengajaran dan pengembangan ilmu dan nilai-nilai Islam
  2. Memelihara tradisi keilmuan Islam dan sekaligus mendorong pembaharuan pemikiran Islam
  3. Mengarahkan mahasiswa kepada pemilikan ahklak mulia, pemikiran rasional, analitis, berorientasi pada pemecahan masalah, dan berpandangan jauh ke depan.
  4. Melaksanakan penelitian dalam rangka pengembangan keilmuan dan masyarakat.
  5. Memberikan kontribusi dalam proses pembangunan, khususnya dalam kaitan dengan upaya memperkuat landasan spiritual, moral dan etik pembangunan.
  6. Memberikan kontribusi dalam upaya mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan umat manusia.
TUJUAN
Menghasilkan tenaga ahli dalam bidang Ilmu Agama Islam yang kelak dapat bertindak sebagai tenaga penggerak pendidikan dan pengajaran serta penelitian dan pengembangan Ilmu Agama Islam.



FAKULTAS
1.   Fakultas Syari'ah
  • Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah
  • Program Studi Jinayah dan Siyasah
  • Program Studi Ekonomi Syari'ah
2.  Fakultas Tarbiyah
  • Program Studi Pendidikan Agama Islam
  • Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
  • Program Studi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal
PROGRAM
1.  Program Pascasarjana
  • Program Studi Pendidikan Agama Islam
  • Program Studi Manajemen Pendidikan Islam
  • Program Studi Supervisi Pendidikan Islam
Jika teman-teman ada yang ingin lebih tahu dan lebih jelas tentang IAID silahkan Kunjungi websitenya yaitu di http://www.iaid.ac.id/

Okay, udah akhh, segitu dulu
See You Next Time....


Minggu, 14 April 2013

Contoh Paper "Tanaman Sirsak sebagai Pestisida Nabati"

Hellooo............
Disini saya akan mencoba untuk menge-share Paper saya waktu jaman SMA dulu...
di sekolah saya itu untuk dapat mengikuti UN maka saya harus membuat suatu paper. bisa dikatakan paper ini dijadikan sebagai persyaratan untuk dapat mengikuti UN.
Udah akh, curcollnya........
langsung aja ini dia My Paper yang berjudul"Tanaman Sirsak sebagai Pestisida Nabati".


KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam, atas karunia-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik dan lancar sesuai apa yang penulis harapkan. Semoga tugas yang kami jalankan ini dapat membuahkan nilai yang lebih baik. Sesuai dengan isi karya ilmiah yang penulis tulis dari hasil penelitian, karya ilmiah ini penulis beri judul Tanaman Sirsak sebagai Pestisida Nabati.
Dengan ini penulis mengucapkan terima kasih  kepada :
1.          Kepada Guru pembimbing, Ibu Sofi M.Ag  yang telah membimbing penulis,
2.          Kedua orang tua penulis yang telah menberikan dukungan baik materil  maupun nonmateril,
3.          Kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini.
Ciamis, 3 Januari 2012
Penulis
Yang terakhir, penulis mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mungkin, sudah tentu karya ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan dikarenakan penulis masih dalam tahap pembelajaran. Segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.
                                                                                                                                                                                                
                                                                   
BAB I PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah
Dalam dekade terakhir ternyata telah terjadi kenaikan yang cukup drastis penggunaan pestisida di Indonesia. Insektisida yang digunakan mencapai 70% dari total pestisida kimia yang digunakan di Indonesia. Jenis – jenis tanaman yang tercatat banyak menggunakan pestisida adalah padi, kedelai, sayuran, buah-buahan dan tanaman perkebunan. Masalah polusi pestisida pada umumnya berasosiasi dengan tanaman tersebut.
Meskipun sebelum diproduksi secara komersial telah menjalani pengujian yang sangat ketat perihal syarat-syarat keselamatan namun karena bersifat bioaktif, maka pestisida tetap merupakan racun. Setiap racun selalu mengandung risiko (bahaya) dalam penggunaannya, baik risiko bagi manusia maupun lingkungan. Keseluruhan risiko penggunaan pestisida di bidang pertanian sebagai berikut.
a.       Risiko bagi keselamatan pengguna adalah kontaminasi pestisida secara langsung, yang dapat mengakibatkan keracunan, baik akut maupun kronis. Keracunan akut dapat menimbulkan iritasi kulit, bahkan dapat mengakibatkan kebutaan. Keracunan pestisida yang akut berat dapat menyebabkan penderita tidak sadarkan diri, kejang-kejang, bahkan meninggal dunia. Keracunan kronis lebih sulit dideteksi karena tidak segera terasa, tetapi dalam jangka panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Akibat yang ditimbulkan oleh keracunan kronis tidak selalu mudah diprediksi. Beberapa gangguan kesehatan yang sering dihubungkan dengan pestisida, meskipun tidak mudah dibuktikan dengan pasti dan meyakinkan, adalah kanker, gangguan syaraf, fungsi hati dan ginjal, gangguan pernafasan, keguguran, cacat pada bayi, dan sebagainya.
b.      Risiko bagi konsumen adalah keracunan residu (sisa-sisa) pestisida yang terdapat dalam produk pertanian. Risiko bagi konsumen dapat berupa keracunan langsung karena memakan produk pertanian yang tercemar pestisida atau lewat rantai makanan. Meskipun bukan tidak mungkin konsumen menderita keracunan akut, tetapi risiko bagi konsumen umumnya dalam bentuk keracunan kronis, tidak segera terasa, dan dalam jangka panjang mungkin menyebabkan gangguan kesehatan.
c.       Risiko bagi lingkungan. Risiko penggunaan pestisida terhadap lingkungan dapat digolongkan menjadi 3 kelompok sebagai berikut.
·         Risiko bagi orang, hewan, atau tumbuhan yang berada di tempat, atau di sekitar tempat pestisida digunakan. Drift pestisida, misalnya, dapat diterbangkan angin dan mengenai orang yang kebetulan lewat. Pestisida dapat meracuni hewan ternak yang masuk ke kebun yang sudah disemprot pestisida,
·         Bagi lingkungan umum, pestisida dapat menyebabkan pencemaran lingkungan (tanah, udara dan air) dengan segala akibatnya, misalnya kematian hewan non-target, penyederhanaan rantai makanan alami, penyederhanaan keanekaragaman hayati,  bioakumulai/biomagnifikasi, dan sebagainya.
·         Khusus pada lingkungan pertanian (agroekosistem), pengguanaan pestisida pertanian dapat menyebabkan hal-hal berikut.
§  Menurunnya kepekaan hama, penyebab penyakit dan gulma terhadap pestisida tertentu yang berpuncak pada kekebalan (resistensi) hama,penyakit, dan gulma terhadap pestisida.
§  Resurjensi hama, yakni fenomena meningkatnya serangan hama tertentu sesudah perlakuan dengan insektisida. Beberapa kasus resurjensi telah dilaporkan di Indonesia dan IRRI (Laba dan Soejitno,1987). Mekanisme resurjensi ini belum diterangkan dengan jelas tetapi dugaan mengarah pada menurunnya populasi musuh alami hama (Flint dan Van den Bosch,1992) dan meningkatnya fekunditas serta longevitas hama (Sastrosiseojo,1988).
§  Timbulnya hama yang selama ini tidak penting. Timbulnya ledakan hama sekunder akibat aplikasi pertisida belum banyak diteliti di Indonesia. Tetapi, pengamatan di daerah pantai utara Jawa Barat pada tahun 1969/1970 terjadi ledakan hama ganjur sesudah penyemprotan intensif dengan fosfamidon untuk mengendalikan penggerek padi (Oka, 1995).
§  Terbunuhnya musuh alami hama. Data mengenai hal ini di Indonesia juga masih sedikit. Beberapa kejadian dan penelitian yang ada menyatakan bahwa Fentoal 60 EC dan Isoksatin 25 EC menyebabkan penurunan populadi laba-laba (Lycosa sp.) Diazinon 60 EC, MICP 40 WP, Fenitrotion 75 EC dan Isoksatin 25 EC menurunkan populadi Cytorhinus sp. (Soekarna,1979).
§  Perubahan flora, misalnya penggunaan herbisida secara terus menerus untuk mengendalikan gulma daun lebar akan merangsang perkembangan gulma daun sempit (rumput).
§  Meracuni tanaman bila salah menggunakannya.
Dengan mengetahui risiko dari penggunaan pestisida kimia maka dari itu diperlukan jalan alternatif dalam membasmi OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yaitu salah satunya dengan menggunakan pestisida nabati. Secara ekonomis bila dibandingkan dengan pestisida kimia, biaya penggunaan pestisida nabati relatif lebih murah. Selain itu pestisida nabati lebih mudah dibuat dan didapat oleh petani dengan kemampuan dan pengetahuan terbatas. Dari sisi lain,pestisida nabati mempunyai keistimewaan yaitu bersifat mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif lebih aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah terurai.
Menurut Jacobson, bahan alam yang paling menjajikan prospeknya untuk dikembangkan sebagai pestisida ada pada tanaman – tanaman family Meliaceae (misalnya nimba), Annonaceae (misalnya sirsak), Rutaceae, Asteraceae, Labiateae, dan Canellaceae.
Dengan mengetahui bahwa tanaman sirsak dapat menjadi pestisida nabati, dalam makalah ini penulis akan meneliti tanaman sirsak sebagai pestisida nabati dan pengaruhnya terhadap hama tanaman yaitu salah satunya belalang. Penulis memilih belalang karena serangga ini banyak ditemukan di Indonesia serta sangat merugikan petani . Organ tumbuhan yang diserang oleh hama ini yaitu bagian daun. Hewan ini sangat aktif memakan daun sehingga helaian daun berlubang dan lama kelamaan habis dimakan.
2.      Rumusan Masalah
a.       Bagaimana langkah – langkah dalam pembuatan pestisida nabati dari daun sirsak ?
b.      Bagaimana pengaruh pemberian pestisida nabati dari daun sirsak terhadap belalang?
c.       Zat apa saja yang terkandung dalam daun sirsak sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati ?
3.      Tujuan Penelitian
a.       Untuk mengetahui langkah – langkah dalam pembuatan pestisida nabati dari daun sirsak,
b.      Untuk mengetahui pengaruh pemberian daun pestisida nabati dari sirsak terhadap belalang,
c.       Untuk mengetahui zat - zat yang terkandung dalam daun sirsak sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati.
4.      Manfaat Penelitian
Dengan mengetahui bahwa daun sirsak dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati diharapkan dapat menjadi solusi dalam permasalaham penggunaan pestisida kimia yang membawa dampak negatif  bagi lingkungan dan organisme.
5.      Metode penelitian
Metode yang digunakan penulis dalam melakukan penelitian dengan metode  kuantitatif yaitu dengan menggunakan penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian - bagian dan fenomena serta hubungan – hubungannya. Metode kuantitatif yang digunakan penulis meliputi :
a.        Observasi lapangan. Metode ini ,menggunakan system pencarian data secara langsung dengan melakukan percobaan.
b.      Booksurvei. Metode ini menggunakan system pencarian data melalui sumber – sumber buku.
c.       Browsing internet. Metode ini menggunakan sistem pencarian data melalui situs – situs internet.
Ketiga metode inilah yang kemudian penulis gunakan untuk menganalisis sumber data sebagai dasar penyusunan karya ilmiah ini.


BAB II LANDASAN TEORI
1.      Tanaman Sirsak
Kedudukan tanaman sirsak dalam sistematika tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom: Plantae
(unranked): Angiosperms
(unranked): Magnoliids
Order: Magnoliales
Family: Annonaceae
Genus: Annona
Species: A. muricata
Sirsak, nangka belanda, atau durian belanda (Annona muricata L.) adalah tumbuhan berguna yang berasal dari KaribiaAmerika Tengah dan Amerika Selatan. Di berbagai daerah Indonesia dikenal sebagai nangka sebrangnangka landa (Jawa), nangka walandasirsak (Sunda), nangka buris (Madura), srikaya jawa (Bali), deureuyan belanda (Aceh), durio ulondro (Nias), durian betawi (Minangkabau), serta jambu landa (di Lampung). Penyebutan "belanda" dan variasinya menunjukkan bahwa sirsak (dari bahasa Belandazuurzak, berarti "kantung asam") didatangkan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda ke Nusantara, yaitu pada abad ke-19, meskipun bukan berasal dari Eropa.
Tanaman sirsak merupakan tanaman perdu, dengan tinggi tanaman rata-rata kurang dari 8 meter. Bentuk daunnya elips dengan panjang daun 6-12 cm. Tanaman ini termasuk dalam family Annonaceae. Jenis lain dari kelurga ini adalah buah nona dan srikaya. Dalam pertunbuhannya tanaman sirsak menyukai daerah yang cukup panas namun mempunyai curah hujan yang cukup, tanaman ini mampu hidup hingga ketinggian 100 meter  di bawah permukaan laut. Di daerah – daerah dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di bawah permukaan laut juga masih dapat tumbuh, namun tidak tahan terhadap suhu rendah apalagi terhadap serangan beku. Dalam hidupnya tanah yang dibutuhkan sebagai tempat tumbuh tidak harus terlalu bagus, yang penting tanah mempunyai sifat menyalurkan air dengan baik, dan banyak mempunyai humus. Tanaman sirsak memiliki system perakaran yang dangkal, sehingga tidak terlalu menuntut tanah yang terlalu dalam. Tanaman dapat tumbuh dengan baik terutama pada tanah berpasir, berlempung dan tanah yang berealsi agak asam dengan pH 5,5 – 6,5.
2.      Pestisida nabati
Pestisida (Inggris : Pesticide) secara harfiah berarti pembunuh hama (pest : hama ; cide: pembunuh).menurut peraturan pemerintah no. 7/1973, pestisida adalah semua zat kimia atau bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk :
a.       Mengendalikan atau mencegah hama / penyakit yang merusak tanaman, atau hasil-hasil pertanian;
b.      Mengendalikan rerumputan;
c.       Mengatur atau merangsang pertumbuhan yang tidak diinginkan;
d.      Mengendalikan / mencegah hama – hama luar pada hewan peliharaan dan ternak;
e.       Mengendalikan hama – hama air;
f.       Mengendalikan atau mencegah binatang –binatang yang perlu dilindungi, dengan penggunaan pada tanaman, tanah, dan air.
Menurut United States Enviromental Pesticide Control Act. Pestisida adalah sebagai berikut.
a.       Semua zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk mengendalikan .mencegah, atau menangkis gangguan serangga, binatang mengerat, nematode, gulma,virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama, kecuali virus, bakteri, jasad renik lainnya yang terdapat pada manusia dan binatang;
b.      Semua zat atau campuran zat yang digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman atau pengering hama.
Dari batasan tersebut diatas nyata bahwa pengertian pestisida luas sekali yakni meliputi produk – produk yang digunakan di bidang pertanian, kehutanan, perkebunan, peternakan / kesehatan hewan, perikanan, dan kesehatan masyarakat. Pestisida yang digunakan di bidang pertanian secara spesifik sering disebut produk perlindungan tanaman (crop protection product) untuk membedakannya dari produk – produk yang digunakan di bidang lain.
Istilah produk perlindungan tanaman juga digunakan untuk menghindari istilah pestisida yang berkonotasi “bahan pembunuh”. Memang, kenyataannya tidak semua pestisida pertanian bekerja dengan cara membuat Repellent, misalnya tidak membunuh melainkan mengusir hama. Attractant bekerja menarik / mengumpulkan serangga. Istilah pestisida, kecuali lebih pendek dan lebih dikenal luas, merupakan istilah resmi yang digunakan dalam peraturan dan perundang-undangan.
Nabati yaitu sesuatu yang berhubungan dengan tumbuhan.
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pestisida nabati yaitu bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pestisida nabati dapat berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul) atau pembunuh.
Pestisida nabati bersifat mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan. Jenis pestisida ini juga relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang.
Pestisida nabati dapat membunuh atau mengganggu serangan hama dan penyakit melalui cara kerjayang unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggal. Cara kerja pestisida sangat spesifik yaitu sebagai berikut.
a.       Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa,
b.      Menghambat pergantian kulit,
c.       Mengganggu komunikasi serangga,
d.      Menyebabkan serangga menolak makan,
e.       Menghambat reproduksi serangga betina,
f.       Mengurangi nafsu makan,
g.      Memblokir kemampuan makan serangga
h.      Mengusir serangga
i.        Menghambat perkembangan patogen penyakit
Meskipun begitu, pestisida nabati juga memiliki kelemahan yakni sebagai berikut.
a.       Daya kerjanya relative lambat,
b.      Tidak membunuh jasad sasaran secara langsung,
c.       Tidak tahan terhadap sinar metahari,
d.      Kurang prektis,
e.       Tidak tahan disimpan,
f.       Kadang-kadang harus disemprotkan berulang – ulang.

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.      Pembuatan pestisida nabati dari daun sirsak.
Langkah – langkah dalam pembuatan pestisida nabati dari daun sirsak yakni sebagai berikut.
a.       Tumbuk halus 50 – 100 lembar daun sirsak,
b.      Rendam dalam 5 liter air ditambah 15 gram detergen, aduk sampai rata dan diamkan semalam.
c.       Saring larutan tersebut dengan kain halus
d.      Diencerkan tiap 1 liter larutan hasil penyaringan dengan 10 – 15 liter air.
Berhubung penulis melakukan penelitian tentang pengaruh pestisida nabati terhadap belalang, maka pembuatan pestisida nabati ini takarannya disesuaikan dengan penelitian ini, maka dari itu pembuatan pestisida nabati dari daun sirsak dengan takaran yang berbeda tetapi dengan perbandingan yang sama yaitu sebagai berikut.
a.       Tumbuk halus 20 lembar daun sirsak,
b.      Rendam dalam 1 liter air ditambah 3 gram detergen, aduk sampai rata dan diamkan semalam.
c.       Saring larutan tersebut dengan kain halus
d.      Diencerkan tiap 3,3 mililiter larutan hasil penyaringan dengan 0.5 liter air.
2.      Pengaruh pemberian pestisida nabati dari daun sirsak terhadap belalang
Pengaruh pemberian pestisida nabati dari daun sirsak terhadap belalang adalah belalang yang makanannya telah diberi pestisida nabati ini, belalangnya kurang aktif jika dibandingkan belalang yang tidak diberi pestisida nabati, dan dalam kurun waktu 3 hari belalang yang diberi pestisida nabati tersebut mati, dikarenakan memakan daun padi yang telah diberi pestisida daun sirsak. Sedangkan belalang yang makanannya yang berupa daun padi yang tidak diberi pestisida daun sirsak terlihat lebih aktif dibandingkan belalang yang diberi pestisida nabati daun sirsak dan dalam kurun waktu 3 hari terlihat baik – baik saja. Hal itu terjadi karena pestisida nabati dari daun sirsak ini berfungsi sebagai racun kontak dan perut.
a.       Racun kontak
Racun kontak adalah insektisida yang masuk kedalam tubuh serangga lewat kulit (bersinggungan langsung). Serangga hama akan mati bila bersinggungan (kontak langsung)dengan insektisida tersebut. Kebanyakan racun kontak juga berperan sebagai racun perut.
b.      Racun lambung (racun perut, stomash poison)
Racun lambung (racun perut, stomash poison) adalah insektisida yang membunuh serangga sasaran bila insektisida tersebut masuk ke dalam organ pencernaan serangga dan diserap oleh dinding saluran pencernaan. Selanjutnya, insektisida tersebut dibawa oleh cairan tubuh serangga ke tempat sasaran yang mematikan (misalnya ke susunan syaraf serangga). Oleh karena itu, serangga harus terlebih dahulu memakan  tanaman yang sudah disemprot dengan insektisida dalam jumlah yang cukup untuk membunuhnya.
3.      Zat –zat yang terkandung dalam daun sirsak
Bagian dari tanaman sirsak yang digunakan sebagai pestisida nabati adalah daun dan biji. Daun sirsak mengandung senyawa acetogenin antara lain asimisin, bulatacin, dan squamosin. Disamping itu, daun, biji, akar dan buahnya yang mentah juga mengandung senyawa annonain (Mulyaman, dkk.2000).
Daun dan biji sirsak dapat berperan sebagai insektisida, larvasida, repellent (penolak serangga) dan antifeedent (penghambat makan) dengan cara menghaluskan daun dan biji, kemudian dicampur dengan pelarut. Cara kerjanya sebagai racun kontak dan perut. Ekstrak daun sirsak dapat digunakan untuk mengendalikan belalang dan hama lainnya seperti wereng (Kaedinan, 2005).


BAB IV SIMPULAN DAN SARAN
1.      Simpulan
Tanaman Sirsak dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati. Organ tanaman yang digunakan untuk pestisida nabati yaitu salah satunya daunnya . Karena dalam daun sirsak mengandung senyawa racun bagi serangga. Sehingga apabila serangga tersebut contohnya belalang memakan daun yang terkontaminasi oleh pestisida nabati tersebut akan mengalami kematian. Karena saun sirsak ini merupakan pestisida nabati maka cara kerja pestisida nabati ini lebih lambat daripada pestisida kimia. Tetapi pestisida nabati memiliki keunggulan yaitu ramah lingkungan sehingga residunya mudah terurai dan tidak mencemari tanaman.  
2.      Saran
Agar pestisida nabati dari  daun sirsak lebih efektif untuk membasmi hama bisa dikombinasikan dengan bahan lain. Untuk membasmi hama tanaman yang berupa belalang dan ulat dapat dikombinasikan dengan daun tembakau, dengan tata cara sebagai berikut.
a.       50 lembar daun sirsak dan segenggam daun tembakau ditumbuk sampai halus,
b.      Rendam bahan–bahan tersebut dalam 20 lt air yang telah diberi 20 gr detergen selama semalam,
c.       Saring larutan tersebut dengan kain,
d.      Larutan siap digunakan dan disemprotkan ke tanaman.
Selain itu juga bisa dikombinasikan dengan jeringau dan bawang putih untuk mengendalikan hama wereng coklat dengan tata cara sebagai berikut.
a.       Tumbuk halus segenggam daun sirsak, segenggam jeringau dan 20 siung bawang putih
b.      Rendam bahan-bahan tersebut dengan 20 liter air yang telah ditambahkan 20 gr detergen selama 2 hari.
c.       Saring larutan tersebut dengan kain
d.      Larutan tersebut siap digunakan 



DAFTAR PUSTAKA
Djojosumarto, Panut.2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian.Yogyakarta : Kanisius.
Sutanto, Rahman.2002. Pertanian organic. Yogyakarta : Kanisius.
Heru, A Widodo.1992. Pedoman Praktis Budidaya Tanaman Apel dan Sirsak. Jakarta : PD Mahkota.
Dewi, Nurulita Candra.2008. Mengenal Hama dan Penyakit Tumbuhan. Klaten: PT Macanan Jaya Cemerlang.
http://organikhijau.com/pengendali.php





 
Happy Line Blogger Template by Ipietoon Blogger Template