Hellooo............
Disini
saya akan mencoba untuk menge-share Paper saya waktu jaman SMA dulu...
di
sekolah saya itu untuk dapat mengikuti UN maka saya harus membuat suatu paper.
bisa dikatakan paper ini dijadikan sebagai persyaratan untuk dapat mengikuti
UN.
Udah
akh, curcollnya........
langsung
aja ini dia My Paper yang berjudul"Tanaman Sirsak sebagai Pestisida
Nabati".
KATA PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam, atas karunia-Nya, akhirnya penulis dapat
menyelesaikan tugas ini dengan baik dan lancar sesuai apa yang penulis
harapkan. Semoga tugas yang kami jalankan ini dapat membuahkan nilai yang lebih
baik. Sesuai dengan isi karya ilmiah yang penulis tulis dari hasil penelitian,
karya ilmiah ini penulis beri judul Tanaman Sirsak sebagai Pestisida
Nabati.
Dengan
ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.
Kepada Guru pembimbing, Ibu Sofi
M.Ag yang telah membimbing penulis,
2.
Kedua orang tua penulis yang telah
menberikan dukungan baik materil maupun nonmateril,
3.
Kepada semua pihak yang telah membantu
penulis dalam menyelesaikan laporan ini.
|
Ciamis, 3 Januari
2012
|
|
|
Penulis
|
Yang
terakhir, penulis mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mungkin, sudah
tentu karya ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan dikarenakan penulis masih
dalam tahap pembelajaran. Segala kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat penulis harapkan.
BAB I PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang Masalah
Dalam
dekade terakhir ternyata telah terjadi kenaikan yang cukup drastis penggunaan
pestisida di Indonesia. Insektisida yang digunakan mencapai 70% dari total
pestisida kimia yang digunakan di Indonesia. Jenis – jenis tanaman yang
tercatat banyak menggunakan pestisida adalah padi, kedelai, sayuran,
buah-buahan dan tanaman perkebunan. Masalah polusi pestisida pada umumnya
berasosiasi dengan tanaman tersebut.
Meskipun
sebelum diproduksi secara komersial telah menjalani pengujian yang sangat ketat
perihal syarat-syarat keselamatan namun karena bersifat bioaktif, maka
pestisida tetap merupakan racun. Setiap racun selalu mengandung risiko (bahaya)
dalam penggunaannya, baik risiko bagi manusia maupun lingkungan. Keseluruhan
risiko penggunaan pestisida di bidang pertanian sebagai berikut.
a.
Risiko bagi keselamatan pengguna adalah kontaminasi pestisida secara langsung,
yang dapat mengakibatkan keracunan, baik akut maupun kronis. Keracunan akut
dapat menimbulkan iritasi kulit, bahkan dapat mengakibatkan kebutaan. Keracunan
pestisida yang akut berat dapat menyebabkan penderita tidak sadarkan diri,
kejang-kejang, bahkan meninggal dunia. Keracunan kronis lebih sulit dideteksi
karena tidak segera terasa, tetapi dalam jangka panjang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan. Akibat yang ditimbulkan oleh keracunan kronis tidak selalu
mudah diprediksi. Beberapa gangguan kesehatan yang sering dihubungkan dengan
pestisida, meskipun tidak mudah dibuktikan dengan pasti dan meyakinkan, adalah
kanker, gangguan syaraf, fungsi hati dan ginjal, gangguan pernafasan,
keguguran, cacat pada bayi, dan sebagainya.
b.
Risiko bagi konsumen adalah keracunan residu (sisa-sisa) pestisida yang
terdapat dalam produk pertanian. Risiko bagi konsumen dapat berupa keracunan
langsung karena memakan produk pertanian yang tercemar pestisida atau lewat
rantai makanan. Meskipun bukan tidak mungkin konsumen menderita keracunan akut,
tetapi risiko bagi konsumen umumnya dalam bentuk keracunan kronis, tidak segera
terasa, dan dalam jangka panjang mungkin menyebabkan gangguan kesehatan.
c.
Risiko bagi lingkungan. Risiko penggunaan pestisida terhadap lingkungan dapat
digolongkan menjadi 3 kelompok sebagai berikut.
·
Risiko bagi orang, hewan, atau tumbuhan yang berada di tempat, atau di sekitar
tempat pestisida digunakan. Drift pestisida, misalnya, dapat diterbangkan angin
dan mengenai orang yang kebetulan lewat. Pestisida dapat meracuni hewan ternak
yang masuk ke kebun yang sudah disemprot pestisida,
·
Bagi lingkungan umum, pestisida dapat menyebabkan pencemaran lingkungan (tanah,
udara dan air) dengan segala akibatnya, misalnya kematian hewan non-target,
penyederhanaan rantai makanan alami, penyederhanaan keanekaragaman hayati,
bioakumulai/biomagnifikasi, dan sebagainya.
·
Khusus pada lingkungan pertanian (agroekosistem), pengguanaan pestisida
pertanian dapat menyebabkan hal-hal berikut.
§
Menurunnya kepekaan hama, penyebab penyakit dan gulma terhadap pestisida
tertentu yang berpuncak pada kekebalan (resistensi) hama,penyakit, dan gulma
terhadap pestisida.
§
Resurjensi hama, yakni fenomena meningkatnya serangan hama tertentu sesudah
perlakuan dengan insektisida. Beberapa kasus resurjensi telah dilaporkan di
Indonesia dan IRRI (Laba dan Soejitno,1987). Mekanisme resurjensi ini belum
diterangkan dengan jelas tetapi dugaan mengarah pada menurunnya populasi musuh
alami hama (Flint dan Van den Bosch,1992) dan meningkatnya fekunditas serta
longevitas hama (Sastrosiseojo,1988).
§
Timbulnya hama yang selama ini tidak penting. Timbulnya ledakan hama sekunder
akibat aplikasi pertisida belum banyak diteliti di Indonesia. Tetapi,
pengamatan di daerah pantai utara Jawa Barat pada tahun 1969/1970 terjadi
ledakan hama ganjur sesudah penyemprotan intensif dengan fosfamidon untuk
mengendalikan penggerek padi (Oka, 1995).
§
Terbunuhnya musuh alami hama. Data mengenai hal ini di Indonesia juga masih
sedikit. Beberapa kejadian dan penelitian yang ada menyatakan bahwa Fentoal 60
EC dan Isoksatin 25 EC menyebabkan penurunan populadi laba-laba (Lycosa sp.)
Diazinon 60 EC, MICP 40 WP, Fenitrotion 75 EC dan Isoksatin 25 EC menurunkan
populadi Cytorhinus sp. (Soekarna,1979).
§
Perubahan flora, misalnya penggunaan herbisida secara terus menerus untuk
mengendalikan gulma daun lebar akan merangsang perkembangan gulma daun sempit
(rumput).
§
Meracuni tanaman bila salah menggunakannya.
Dengan
mengetahui risiko dari penggunaan pestisida kimia maka dari itu diperlukan
jalan alternatif dalam membasmi OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yaitu salah
satunya dengan menggunakan pestisida nabati. Secara ekonomis bila dibandingkan
dengan pestisida kimia, biaya penggunaan pestisida nabati relatif lebih murah.
Selain itu pestisida nabati lebih mudah dibuat dan didapat oleh petani dengan
kemampuan dan pengetahuan terbatas. Dari sisi lain,pestisida nabati mempunyai
keistimewaan yaitu bersifat mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari
lingkungan dan relatif lebih aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena
residunya mudah terurai.
Menurut
Jacobson, bahan alam yang paling menjajikan prospeknya untuk dikembangkan
sebagai pestisida ada pada tanaman – tanaman family Meliaceae (misalnya
nimba), Annonaceae (misalnya sirsak), Rutaceae,
Asteraceae, Labiateae, dan Canellaceae.
Dengan
mengetahui bahwa tanaman sirsak dapat menjadi pestisida nabati, dalam makalah
ini penulis akan meneliti tanaman sirsak sebagai pestisida nabati dan
pengaruhnya terhadap hama tanaman yaitu salah satunya belalang. Penulis memilih
belalang karena serangga ini banyak ditemukan di Indonesia serta sangat
merugikan petani . Organ tumbuhan yang diserang oleh hama ini yaitu bagian
daun. Hewan ini sangat aktif memakan daun sehingga helaian daun berlubang dan
lama kelamaan habis dimakan.
2.
Rumusan Masalah
a.
Bagaimana langkah – langkah dalam pembuatan pestisida nabati dari daun sirsak ?
b.
Bagaimana pengaruh pemberian pestisida nabati dari daun sirsak terhadap
belalang?
c.
Zat apa saja yang terkandung dalam daun sirsak sehingga dapat dimanfaatkan
sebagai pestisida nabati ?
3.
Tujuan Penelitian
a.
Untuk mengetahui langkah – langkah dalam pembuatan pestisida nabati dari daun
sirsak,
b.
Untuk mengetahui pengaruh pemberian daun pestisida nabati dari sirsak terhadap
belalang,
c.
Untuk mengetahui zat - zat yang terkandung dalam daun sirsak sehingga dapat
dimanfaatkan sebagai pestisida nabati.
4.
Manfaat Penelitian
Dengan
mengetahui bahwa daun sirsak dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati
diharapkan dapat menjadi solusi dalam permasalaham penggunaan pestisida kimia
yang membawa dampak negatif bagi lingkungan dan organisme.
5.
Metode penelitian
Metode
yang digunakan penulis dalam melakukan penelitian dengan metode
kuantitatif yaitu dengan menggunakan penelitian ilmiah yang sistematis
terhadap bagian - bagian dan fenomena serta hubungan – hubungannya. Metode
kuantitatif yang digunakan penulis meliputi :
a.
Observasi lapangan. Metode ini ,menggunakan system pencarian data secara
langsung dengan melakukan percobaan.
b.
Booksurvei. Metode ini menggunakan system pencarian data melalui sumber –
sumber buku.
c.
Browsing internet. Metode ini menggunakan sistem pencarian data melalui situs –
situs internet.
Ketiga
metode inilah yang kemudian penulis gunakan untuk menganalisis sumber data
sebagai dasar penyusunan karya ilmiah ini.
BAB II LANDASAN TEORI
1.
Tanaman Sirsak
Kedudukan
tanaman sirsak dalam sistematika tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom:
Plantae
(unranked): Angiosperms
(unranked): Magnoliids
Order: Magnoliales
Family: Annonaceae
Genus: Annona
Species: A. muricata
Sirsak,
nangka belanda, atau durian belanda (Annona muricata L.)
adalah tumbuhan berguna yang berasal dari Karibia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Di berbagai daerah Indonesia
dikenal sebagai nangka sebrang, nangka landa (Jawa), nangka walanda, sirsak (Sunda), nangka buris (Madura), srikaya jawa (Bali), deureuyan belanda (Aceh), durio ulondro (Nias), durian betawi (Minangkabau), serta jambu landa (di Lampung). Penyebutan "belanda" dan
variasinya menunjukkan bahwa sirsak (dari bahasa Belanda: zuurzak, berarti
"kantung asam") didatangkan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda ke Nusantara, yaitu pada abad ke-19, meskipun bukan
berasal dari Eropa.
Tanaman
sirsak merupakan tanaman perdu, dengan tinggi tanaman rata-rata kurang dari 8
meter. Bentuk daunnya elips dengan panjang daun 6-12 cm. Tanaman ini termasuk
dalam family Annonaceae. Jenis lain dari kelurga ini adalah buah nona dan
srikaya. Dalam pertunbuhannya tanaman sirsak menyukai daerah yang cukup panas
namun mempunyai curah hujan yang cukup, tanaman ini mampu hidup hingga
ketinggian 100 meter di bawah permukaan laut. Di daerah – daerah dengan
ketinggian lebih dari 1000 meter di bawah permukaan laut juga masih dapat
tumbuh, namun tidak tahan terhadap suhu rendah apalagi terhadap serangan beku.
Dalam hidupnya tanah yang dibutuhkan sebagai tempat tumbuh tidak harus terlalu
bagus, yang penting tanah mempunyai sifat menyalurkan air dengan baik, dan
banyak mempunyai humus. Tanaman sirsak memiliki system perakaran yang dangkal,
sehingga tidak terlalu menuntut tanah yang terlalu dalam. Tanaman dapat tumbuh
dengan baik terutama pada tanah berpasir, berlempung dan tanah yang berealsi
agak asam dengan pH 5,5 – 6,5.
2.
Pestisida nabati
Pestisida
(Inggris : Pesticide) secara harfiah berarti pembunuh hama (pest : hama ; cide:
pembunuh).menurut peraturan pemerintah no. 7/1973, pestisida adalah semua zat
kimia atau bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk :
a.
Mengendalikan atau mencegah hama / penyakit yang merusak tanaman, atau
hasil-hasil pertanian;
b.
Mengendalikan rerumputan;
c.
Mengatur atau merangsang pertumbuhan yang tidak diinginkan;
d.
Mengendalikan / mencegah hama – hama luar pada hewan peliharaan dan ternak;
e.
Mengendalikan hama – hama air;
f.
Mengendalikan atau mencegah binatang –binatang yang perlu dilindungi, dengan
penggunaan pada tanaman, tanah, dan air.
Menurut
United States Enviromental Pesticide Control Act. Pestisida adalah sebagai
berikut.
a.
Semua zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk mengendalikan
.mencegah, atau menangkis gangguan serangga, binatang mengerat, nematode,
gulma,virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama, kecuali virus, bakteri,
jasad renik lainnya yang terdapat pada manusia dan binatang;
b.
Semua zat atau campuran zat yang digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman
atau pengering hama.
Dari
batasan tersebut diatas nyata bahwa pengertian pestisida luas sekali yakni
meliputi produk – produk yang digunakan di bidang pertanian, kehutanan,
perkebunan, peternakan / kesehatan hewan, perikanan, dan kesehatan masyarakat.
Pestisida yang digunakan di bidang pertanian secara spesifik sering disebut
produk perlindungan tanaman (crop protection product) untuk membedakannya dari
produk – produk yang digunakan di bidang lain.
Istilah
produk perlindungan tanaman juga digunakan untuk menghindari istilah pestisida
yang berkonotasi “bahan pembunuh”. Memang, kenyataannya tidak semua pestisida
pertanian bekerja dengan cara membuat Repellent, misalnya tidak membunuh
melainkan mengusir hama. Attractant bekerja menarik / mengumpulkan serangga.
Istilah pestisida, kecuali lebih pendek dan lebih dikenal luas, merupakan
istilah resmi yang digunakan dalam peraturan dan perundang-undangan.
Nabati
yaitu sesuatu yang berhubungan dengan tumbuhan.
Dari
pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pestisida nabati yaitu bahan aktif
tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang dapat digunakan untuk
mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pestisida nabati dapat
berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul) atau pembunuh.
Pestisida
nabati bersifat mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari
lingkungan. Jenis pestisida ini juga relatif aman bagi manusia dan ternak
peliharaan karena residunya mudah hilang.
Pestisida
nabati dapat membunuh atau mengganggu serangan hama dan penyakit melalui cara
kerjayang unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara
tunggal. Cara kerja pestisida sangat spesifik yaitu sebagai berikut.
a.
Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa,
b.
Menghambat pergantian kulit,
c.
Mengganggu komunikasi serangga,
d.
Menyebabkan serangga menolak makan,
e.
Menghambat reproduksi serangga betina,
f.
Mengurangi nafsu makan,
g.
Memblokir kemampuan makan serangga
h.
Mengusir serangga
i.
Menghambat perkembangan patogen penyakit
Meskipun
begitu, pestisida nabati juga memiliki kelemahan yakni sebagai berikut.
a.
Daya kerjanya relative lambat,
b.
Tidak membunuh jasad sasaran secara langsung,
c.
Tidak tahan terhadap sinar metahari,
d.
Kurang prektis,
e.
Tidak tahan disimpan,
f.
Kadang-kadang harus disemprotkan berulang – ulang.
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.
Pembuatan pestisida nabati dari daun sirsak.
Langkah
– langkah dalam pembuatan pestisida nabati dari daun sirsak yakni sebagai
berikut.
a.
Tumbuk halus 50 – 100 lembar daun sirsak,
b.
Rendam dalam 5 liter air ditambah 15 gram detergen, aduk sampai rata dan
diamkan semalam.
c.
Saring larutan tersebut dengan kain halus
d.
Diencerkan tiap 1 liter larutan hasil penyaringan dengan 10 – 15 liter air.
Berhubung
penulis melakukan penelitian tentang pengaruh pestisida nabati terhadap
belalang, maka pembuatan pestisida nabati ini takarannya disesuaikan dengan
penelitian ini, maka dari itu pembuatan pestisida nabati dari daun sirsak
dengan takaran yang berbeda tetapi dengan perbandingan yang sama yaitu sebagai
berikut.
a.
Tumbuk halus 20 lembar daun sirsak,
b.
Rendam dalam 1 liter air ditambah 3 gram detergen, aduk sampai rata dan diamkan
semalam.
c.
Saring larutan tersebut dengan kain halus
d.
Diencerkan tiap 3,3 mililiter larutan hasil penyaringan dengan 0.5 liter air.
2. Pengaruh
pemberian pestisida nabati dari daun sirsak terhadap belalang
Pengaruh
pemberian pestisida nabati dari daun sirsak terhadap belalang adalah belalang
yang makanannya telah diberi pestisida nabati ini, belalangnya kurang aktif
jika dibandingkan belalang yang tidak diberi pestisida nabati, dan dalam kurun
waktu 3 hari belalang yang diberi pestisida nabati tersebut mati, dikarenakan
memakan daun padi yang telah diberi pestisida daun sirsak. Sedangkan belalang
yang makanannya yang berupa daun padi yang tidak diberi pestisida daun sirsak
terlihat lebih aktif dibandingkan belalang yang diberi pestisida nabati daun
sirsak dan dalam kurun waktu 3 hari terlihat baik – baik saja. Hal itu terjadi
karena pestisida nabati dari daun sirsak ini berfungsi sebagai racun
kontak dan perut.
a.
Racun kontak
Racun
kontak adalah insektisida yang masuk kedalam tubuh serangga lewat kulit
(bersinggungan langsung). Serangga hama akan mati bila bersinggungan (kontak
langsung)dengan insektisida tersebut. Kebanyakan racun kontak juga berperan
sebagai racun perut.
b. Racun
lambung (racun perut, stomash poison)
Racun
lambung (racun perut, stomash poison) adalah insektisida yang membunuh serangga
sasaran bila insektisida tersebut masuk ke dalam organ pencernaan serangga dan
diserap oleh dinding saluran pencernaan. Selanjutnya, insektisida tersebut
dibawa oleh cairan tubuh serangga ke tempat sasaran yang mematikan (misalnya ke
susunan syaraf serangga). Oleh karena itu, serangga harus terlebih dahulu
memakan tanaman yang sudah disemprot dengan insektisida dalam jumlah yang
cukup untuk membunuhnya.
3.
Zat –zat yang terkandung dalam daun sirsak
Bagian
dari tanaman sirsak yang digunakan sebagai pestisida nabati adalah daun dan
biji. Daun sirsak mengandung senyawa acetogenin antara lain asimisin,
bulatacin, dan squamosin. Disamping itu, daun, biji, akar dan buahnya yang
mentah juga mengandung senyawa annonain (Mulyaman, dkk.2000).
Daun
dan biji sirsak dapat berperan sebagai insektisida, larvasida, repellent
(penolak serangga) dan antifeedent (penghambat makan) dengan cara menghaluskan
daun dan biji, kemudian dicampur dengan pelarut. Cara kerjanya sebagai racun
kontak dan perut. Ekstrak daun sirsak dapat digunakan untuk mengendalikan
belalang dan hama lainnya seperti wereng (Kaedinan, 2005).
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN
1.
Simpulan
Tanaman
Sirsak dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati. Organ tanaman yang
digunakan untuk pestisida nabati yaitu salah satunya daunnya . Karena dalam
daun sirsak mengandung senyawa racun bagi serangga. Sehingga apabila serangga
tersebut contohnya belalang memakan daun yang terkontaminasi oleh pestisida
nabati tersebut akan mengalami kematian. Karena saun sirsak ini merupakan
pestisida nabati maka cara kerja pestisida nabati ini lebih lambat daripada
pestisida kimia. Tetapi pestisida nabati memiliki keunggulan yaitu ramah
lingkungan sehingga residunya mudah terurai dan tidak mencemari tanaman.
2.
Saran
Agar
pestisida nabati dari daun sirsak lebih efektif untuk membasmi hama bisa
dikombinasikan dengan bahan lain. Untuk membasmi hama tanaman yang berupa
belalang dan ulat dapat dikombinasikan dengan daun tembakau, dengan tata cara
sebagai berikut.
a. 50
lembar daun sirsak dan segenggam daun tembakau ditumbuk sampai halus,
b. Rendam
bahan–bahan tersebut dalam 20 lt air yang telah diberi 20 gr detergen selama
semalam,
c. Saring
larutan tersebut dengan kain,
d. Larutan
siap digunakan dan disemprotkan ke tanaman.
Selain
itu juga bisa dikombinasikan dengan jeringau dan bawang putih untuk
mengendalikan hama wereng coklat dengan tata cara sebagai berikut.
a. Tumbuk
halus segenggam daun sirsak, segenggam jeringau dan 20 siung bawang putih
b. Rendam
bahan-bahan tersebut dengan 20 liter air yang telah ditambahkan 20 gr detergen
selama 2 hari.
c. Saring
larutan tersebut dengan kain
d. Larutan
tersebut siap digunakan
DAFTAR PUSTAKA
Djojosumarto,
Panut.2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian.Yogyakarta : Kanisius.
Sutanto,
Rahman.2002. Pertanian organic. Yogyakarta : Kanisius.
Heru,
A Widodo.1992. Pedoman Praktis Budidaya Tanaman Apel dan Sirsak. Jakarta : PD
Mahkota.
Dewi,
Nurulita Candra.2008. Mengenal Hama dan Penyakit Tumbuhan. Klaten: PT Macanan
Jaya Cemerlang.
http://organikhijau.com/pengendali.php